,
(الثّلاثاء)Ats-tsulatsa' 25 Rabiul Akhir 1438 H

Kopi Liberika (Coffea liberica)

Kopi liberika adalah jenis kopi yang dihasilkan oleh tanaman Coffea liberica. Kopi ini disebut-sebut berasal dari tanaman kopi liar di daerah Liberia. Padahal sebenarnya ditemukan juga tumbuh secara liar di daerah Afrika lainnya.

Kopi liberika dibawa oleh bangsa Belanda ke Indonesia pada abad ke-19. Kopi ini dikembangkan untuk menggantikan tanaman arabika yang terserang wabah penyakit karat daun. Namun upaya tersebut kurang berhasil karena tanaman kopi liberika mengalami hal yang sama.

Saat ini kopi liberika ditanam secara terbatas di negara-negara Afrika dan Asia. Secara global produksinya jauh dibawah arabika dan robusta. Di Indonesia kopi liberika bisa ditemukan di daerah Jambi dan Bengkulu. Sebagian besar hasil produksi liberika dari tempat tersebut di ekspor ke Malaysia.

Sejarah budidaya

eperti sudah disinggung sebelumnya, nama liberika diambil dari nama tempat ditemukannya jenis kopi ini yakni di daerah Liberia. Walaupun sebenarnya jenis kopi ini ditemukan juga di daerah lainnya di Afrika. Pada tahun 1878 Belanda membawa kopi liberika ke Indonesia untuk menggantikan tanaman kopi arabika yang rusak terserang penyakit karat daun atau Hemelia vastatrixi(HV).

Liberika diketahui lebih tahan terhadap penyakit HV dibanding arabika. Namun pada tahun 1907 tanaman liberika mengalami hal yang sama dengan arabika. Hampir semua perkebunan kopi liberika yang terletak di dataran rendah rusak terserang HV. Selanjutnya pemerintah Belanda mengganti liberika dengan jenis robusta.1

Daya tahan kopi liberika terhadap penyakit HV lebih baik dibanding arabika namun tidak setahan kopi robusta. Saat ini liberika ditanam secara terbatas, tidak sebanyak arabika atau robusta. Tanaman kopi ini kurang disukai petani karena rendemen hasil pengolahan buahnya rendah.

Kopi liberika merupakan tanaman endemik Afrika. Penyebarannya meliputi Liberia, Burkina Faso, Pantai Gading, Gabon, Gambia, Gana, Maurtania, Nigeria, Uganda, Kamerun hingga Anggola. Liberika banyak dibudidayakan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Afrika Barat, Guyana dan Suriname. Selain itu secara terbatas dibudidayakan juga di Mauritius, India, Srilangka, Thailand, Taiwan, Vietnam dan Timor-timur.2

Di Indonesia, kopi jenis ini bisa ditemukan di daerah Jambi dan Bengkulu. Di Jambi, produsen liberika terkonsentrasi di wilayah Tanjung Jabung.3

Botani kopi liberika

 

 

Klasifikasi tanaman

Kerajaan: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Suku: Rubiaceae
Marga: Coffea
Spesies: Coffea liberica W. Bull ex Hiern
Varietas: Coffea liberica var. Liberika

Nama ilmiah untuk kopi liberika adalah Coffea liberica var. Liberica. Pada awalnya tanaman ini digolongkan ke dalam spesies yang sama dengan kopi robusta dengan nama ilmiah Coffea canephora var. liberica. Namun pengelompokkan terbaru menyatakannya sebagai spesies tersendiri dengan nama Coffea liberica.4 Karena secara morfologi dan sifat-sifat lainnya berbeda dengan robusta. Selain kopi liberika, terdapat varietas lain dalam spesies Coffea liberica yakni kopi excelsa dengan nama ilmiah Coffea liberica var. Dewevrei.

Deskripsi tanaman

D. Blair, 1876

Daun, bunga dan biji kopi liberika. (Ilustrasi: D. Blair, 1876)

Buah kopi liberika memiliki ukuran cukup besar. Bentuknya bulat hingga lonjong dengan panjang sekitar 18-30 mm. Dalam satu buah terdapat 2 biji kopi yang masing-masing memiliki panjang sekitar 7-15 mm. Diantara jenis kopi budidaya lainnya, liberika memiliki ukuran buah paling besar.5

Namun meski buahnya besar, bobot buah keringnya hanya 10% dari bobot basahnya. Sifat seperti ini kurang disukai para petani karena penyusutan bobot saat panen hingga buah siap olah cukup tinggi. Sehingga ongkos panen menjadi relatif lebih mahal.6 Keadaan ini yang membuat petani enggan mengembangkan jenis kopi liberika.

Habitat tumbuh

Kopi liberika tumbuh baik di daerah tropis dataran rendah dengan ketinggian 400-600 meter dari permukaan laut. Namun tetap bisa tumbuh dan berbuah hingga ketinggian 1200 meter. Suhu ideal pertumbuhannya ada pada kisaran 27-30ºC dengan curah hujan 1500-2500 mm per tahun.7 Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik pada lahan yang tersinari penuh ataupun di bawah naungan pohon lain. Kopi liberika juga memiliki toleransi tinggi pada tanah yang kurang subur. Jenis tanaman ini bisa tumbuh di atas tanah lempung hingga tanah berpasir serta tahan terhadap kekeringan maupun cuaca basah.

Varietas tanaman

Varietas kopi liberika tidak banyak, yang populer diantaranya Ardoniana dan Duvrei. Pada tahun 2014, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslit Koka) melepas spesies kopi liberika dengan nama varietas “Libtukom” kependekan dari Liberika Tunggal Komposit. Libtukom merupakan varietas liberika pertama yang dianjurkan di Indonesia. Varietas libtukom dikembangkan dari kopi liberika yang ada di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi. Varietas ini memiliki keunggulan tahan hama karat daun, bisa ditanam di dataran rendah dan bisa ditanam di lahan marginal seperti tanah gambut.

Liberika varietas libtukom memiliki kemiripan dengan excelsa. Namun terdapat beberapa ciri yang membedakannya, yakni libtukom memiliki daging buah yang tebal sedangkan excelsa lebih tipis mirip arabika. Selain itu pada pupus daunnya, libtukom berwarna hijau hingga hijau kecoklatan sedangkan excelsa merah kecoklatan.8

Perdagangan kopi liberika

Kopi liberika tidak banyak diperdagangkan di pasar internasional. Saat ini perdagangan kopi dunia didominasi oleh jenis arabika sekitar 70% dan robusta 28%, sisanya jenis liberika dan excelsa. Di wilayah Asia Tenggara, liberika banyak disukai oleh konsumen di Malaysia. Kopi liberika asal Indonesia sebagian besar diekspor ke Malaysia, sisanya diperdagangkan secara lokal.

 Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal sebagai penghasil kopi liberika nomor satu adalah Jambi. Bahkan provinsi ini mampu menghasilkan buah kopi hingga mencapai 270 ton per tahun. Hebatnya Jambi bahkan berhasil menciptakan varian baru dari kopi ini yang diberi nama kopi liberika tungkal komposit (litbtukom). Rata-rata harga green bean kopi liberika dibandrol di kisaran Rp35 ribuan/kg.

Tetapi pemasaran kopi liberika khususnya di Indonesia masih belum maksimal. Cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan kopi ini jika tidak memesannya langsung dari Jambi. Selain karena faktor harganya yang lebih mahal, kopi liberika termasuk langka karena produktifitas tanamannya sendiri tidak terlalu tinggi.

 

sumber : https://ensiklopedia.id/kopi-liberika/ dan sumber lainnya.

 

Berita Terkait

3 Komentar

komardoanx | 20 Mei 2016 - 15:08:39 WIB
kopi andalan jambi,.. mantap
Nur Imdah Minsyah | 03 Juni 2016 - 21:53:19 WIB
perlu pembinaan terus secara sistematis agar produksi kopi libtukom daopat optimal. Dewasa ini di lokasi sudah terjadi serangan OPT, petani belum mengtqahui jenis OPT dan cara menanggukanginya
lowongan kerja | 11 November 2016 - 00:41:51 WIB
Terima Kasih Atas informasi dan konfirmasinya.. salam hormat

Komentar Anda







34 + 21 =